Capaian kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencatatkan rekor baru dengan total 282,7 juta jiwa hingga akhir tahun 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwa 98,62 persen dari total penduduk Indonesia telah terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan, meningkat signifikan dari 278,1 juta jiwa pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, dalam pemaparan publik di Jakarta, Kamis (2/7/2026), menyatakan bahwa tren kepercayaan masyarakat terhadap program ini terus menguat. Hal tersebut terbukti dari tingginya angka pemanfaatan layanan kesehatan yang mencapai 725,3 juta kali dalam setahun, atau rata-rata lebih dari 1,99 juta pemanfaatan per harinya.
Lonjakan pemanfaatan ini didorong oleh perluasan jaringan kemitraan dengan fasilitas kesehatan yang kini mencapai 23.770 rumah sakit dan Puskesmas, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Selain itu, dukungan dari 6.190 faskes penunjang, 4.938 apotek, dan 1.252 optik turut memperkuat ekosistem pelayanan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan juga terus menggenjot digitalisasi layanan melalui sistem antrean daring dan simplifikasi rujukan lewat aplikasi Mobile JKN. Implementasi ini telah mencakup 22.613 faskes tingkat pertama serta 3.170 rumah sakit, guna mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan.
Seiring dengan meningkatnya kunjungan, pengeluaran untuk biaya layanan kesehatan tercatat mencapai Rp191,33 triliun pada 2025, naik dari Rp176,11 triliun pada tahun sebelumnya. Pihak BPJS Kesehatan menilai fenomena ini menunjukkan semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap program JKN, terutama untuk penanganan penyakit katastropik atau pengobatan jangka panjang yang berbiaya tinggi.