Indeks acuan pasar saham Korea Selatan, KOSPI, mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (2/7/2026) dengan mencatatkan penurunan signifikan lebih dari 8%. Kondisi ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran terhadap saham-saham sektor teknologi yang sebelumnya menjadi penopang utama pasar.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pelemahan indeks Nasdaq Composite di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Sebagai dampaknya, dua raksasa semikonduktor Korea, Samsung Electronics dan SK Hynix, memimpin penurunan dengan masing-masing terkoreksi cukup tajam. SK Hynix bahkan mencatat penurunan hingga 14,57%, sementara Samsung Electronics tergelincir 9,06% saat penutupan sesi.

Analis pasar dari eToro, Zavier Wong, menjelaskan bahwa tingginya ketergantungan indeks KOSPI pada dua raksasa tersebut membuat pasar sangat rentan. Mengingat Samsung dan SK Hynix memegang bobot sekitar 50% dari total indeks, pergerakan fluktuatif pada saham-saham ini berdampak langsung terhadap stabilitas bursa secara keseluruhan.

Gelombang aksi jual ini tidak hanya melanda Korea Selatan, tetapi juga berdampak pada pasar saham Hong Kong dan Tiongkok. Sejumlah perusahaan semikonduktor regional, seperti Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) dan Hua Hong Grace, terpantau mengalami koreksi tajam di atas 10%.

Di sisi lain, SK Hynix mencoba meredam sentimen negatif dengan mengumumkan rencana investasi strategis senilai KRW 100 triliun. CEO SK Hynix, Kwak Noh-jung, menyatakan dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik fabrikasi M17 dan ekspansi infrastruktur pusat data AI, guna menjawab tingginya permintaan global terhadap teknologi memori canggih seperti HBM dan DRAM.