Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku mengambil langkah progresif dalam memperkuat sistem deteksi dini penyakit ikan. Melalui kolaborasi edukatif, lembaga ini memfasilitasi mahasiswa Budidaya Perairan Universitas Pattimura (Unpatti) untuk menguasai teknologi diagnostik molekuler, khususnya Polymerase Chain Reaction (PCR).

Inisiatif ini dirancang sebagai upaya nyata dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademis di bangku kuliah dengan kebutuhan praktis di industri perikanan. Di bawah bimbingan para ahli, mahasiswa diajak mendalami peran krusial PCR dalam mengidentifikasi patogen berbahaya yang berpotensi mengancam ekosistem akuakultur nasional.

Kepala BKHIT Maluku, Willy Indra Yunan, menegaskan bahwa keahlian dalam deteksi molekuler merupakan pilar utama dalam menjaga biosekuriti. Sebagai wilayah yang dikenal sebagai lumbung ikan nasional, Maluku memikul tanggung jawab besar untuk memastikan setiap komoditas yang keluar dan masuk bebas dari ancaman virus yang bisa melumpuhkan industri perikanan.

Dalam sesi praktikum yang intensif, para mahasiswa dilibatkan langsung dalam alur kerja laboratorium yang profesional. Mereka mempelajari tahapan presisi mulai dari preparasi sampel, isolasi materi genetik, proses amplifikasi, hingga interpretasi data hasil pengujian. Standar prosedur ketat juga diterapkan guna membekali mahasiswa dengan disiplin tinggi dalam penanganan sampel di laboratorium.

Program ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi generasi muda di Maluku untuk menjadi tenaga ahli yang kompeten. Dengan penguasaan teknologi mutakhir, para lulusan diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan hayati yang mampu menjaga stabilitas kualitas produk perikanan Indonesia di masa depan.