TASIKMALAYA — Rendahnya margin pendapatan petani di kawasan pedesaan akibat ketergantungan pada penjualan hasil panen mentah menjadi persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Kondisi ini mendorong Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Telkom merancang program inkubasi kewirausahaan agribisnis yang menyasar kelompok tani organik di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Program bertajuk "Inkubasi Kewirausahaan Agribisnis pada Kelembagaan Ekonomi Petani Organik Mukti Sadaya Menuju Usaha Bernilai Tambah" ini berlangsung secara intensif selama lima bulan, dari Februari hingga Juni 2026.
Inisiatif pemberdayaan ini dipimpin oleh Herdiansyah Gustira Pramudia Suryono, S.T., M.E., dosen dari Kelompok Keahlian Digital Business and Entrepreneurship (DBES) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom. Dalam pelaksanaannya, ia didukung oleh dua rekan dosen, yakni Dr. Dematria Pringgabayu, S.AP., M.M. dan Dr. Ashri Putri Rahadi, S.T., M.S.M., M.Sc., serta tiga mahasiswa yang turut terlibat aktif di lapangan, yaitu Muhammad Khofif, Annisa Rezeky Amelia Rinanda Nasution, dan Thykha Agusthy Dwi Yumandha.
Sebanyak 20 anggota kelompok tani berusia produktif di Kampung Tegalaja, Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung menjadi peserta program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Telkom. Sasaran utama pendampingan ini adalah menggerakkan para petani untuk memasuki tahap hilirisasi, khususnya melalui pengembangan produk olahan pangan turunan pascapanen yang memiliki daya tahan lebih lama serta nilai jual lebih kompetitif.
Ketua Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Organik Mukti Sadaya, Papit Wirahmana, mengakui bahwa selama ini kelompoknya terbiasa melepas hasil panen dalam bentuk mentah secara curah kepada pengepul. "Lewat program inkubasi ini, kami mendapat bimbingan untuk mengolah hasil bumi sendiri sehingga nilai ekonominya meningkat berkali-kali lipat. Ilmu manajemen yang diberikan tim Universitas Telkom sangat kami butuhkan," ungkapnya.
Selama proses pendampingan yang berlangsung secara interaktif melalui metode pelatihan partisipatif, teridentifikasi persoalan mendasar yang selama ini membelenggu para petani. Harga jual gabah di tingkat produsen kerap kali hanya setara dengan biaya pembelian pupuk urea, sehingga margin keuntungan menjadi sangat tipis. Bahkan dalam sejumlah kondisi, biaya operasional produksi justru melampaui pendapatan dari penjualan, membuat usaha tani nyaris merugi.
Merespons problematika tersebut, Herdiansyah menekankan urgensi perubahan pola pikir petani dari sekadar menjual gabah menjadi memasarkan produk beras organik dengan nilai tambah dan daya saing yang jauh lebih tinggi. Ia menyoroti pentingnya mengomunikasikan keunggulan beras organik melalui kemasan profesional, strategi rebranding yang membangun identitas produk kuat, serta integrasi kanal pemasaran offline dan online guna menjangkau segmen pasar yang lebih luas.
Dalam rangkaian inkubasi yang komprehensif ini, para peserta juga dibimbing menyusun cetak biru bisnis menggunakan metode Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan proposisi nilai produk beras organik khas Ciawi Tasikmalaya. Tahapan yang dilalui meliputi kurasi potensi produk, perancangan kemasan berstandar ritel, pengembangan branding dan storytelling produk, hingga pelaksanaan uji coba pasar melalui soft launching serta aktivasi promosi digital di berbagai platform media sosial.
Dalam perspektif yang lebih luas, keberhasilan program ini menghasilkan dampak sosial-ekonomi yang konkret bagi komunitas petani pedesaan. Transformasi yang terjadi tidak sekadar memperkuat posisi tawar petani dalam rantai nilai pertanian, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin pertama, yakni pengentasan kemiskinan, melalui terciptanya model pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis sirkular mandiri di tingkat desa.