Dalam perhelatan Seminar Nasional Fisika (SNF) 2026 yang berlangsung di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (20/6/2026), para mahasiswa diajak untuk melirik peluang karier di luar disiplin ilmu murni. Principal Cybersecurity Grab Indonesia, Richi Aktorian, S.Si., M.T.I., memaparkan bahwa fondasi berpikir kritis yang diajarkan dalam ilmu fisika memiliki relevansi tinggi dalam menjawab tantangan keamanan siber yang kian kompleks.
Richi, yang merupakan alumni fisika dengan peminatan instrumentasi elektronika, menekankan bahwa logika berpikir saintifik sangat krusial dalam mengelola manajemen risiko teknologi digital. Menurutnya, ancaman kejahatan siber saat ini semakin canggih seiring dengan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga pendekatan keamanan konvensional yang hanya mengandalkan perangkat keras tidak lagi cukup.
Ia menggarisbawahi bahwa strategi pertahanan digital yang tangguh harus berpijak pada sinergi tiga pilar utama: manusia (people), proses (process), dan teknologi (technology). Tanpa pemahaman mendalam dari sisi sumber daya manusia serta standar operasional yang tepat, investasi teknologi keamanan yang mahal justru bisa menjadi bumerang bagi perusahaan.
Lebih lanjut, Richi mendorong komunitas akademik fisika untuk tidak bersikap antipati terhadap perkembangan AI. Ia menegaskan bahwa adopsi teknologi ini merupakan keniscayaan yang harus disikapi dengan adaptif. "AI tidak akan pernah menggantikan manusia. Akan tetapi, manusia tanpa AI akan tergantikan oleh manusia yang menggunakan AI," ungkapnya sebagai pesan motivasi bagi para mahasiswa.
Melalui sesi ini, diharapkan para fisikawan muda dapat memperluas wawasan keterampilan mereka agar lebih relevan dengan kebutuhan industri mutakhir. Dengan kombinasi kemampuan analisis fisikawan dan penguasaan AI, generasi mendatang diharapkan mampu memainkan peran strategis dalam menjaga kedaulatan serta keamanan ekosistem digital Indonesia dari berbagai ancaman di masa depan.