Presiden Republik Indonesia membuka Sarasehan Kebangsaan dalam rangka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 pada Senin, 29 Juni 2026, dengan menekankan pentingnya peran kampus dalam pembangunan nasional.
Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa perguruan tinggi, para rektor, guru besar, dosen, dan ilmuwan merupakan aset intelektual bangsa yang harus dilibatkan secara nyata dalam menjawab tantangan negara. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menggerakkan potensi terbaik yang dimiliki dunia akademik.
Acara yang mengangkat tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia” tersebut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Profesor Brian Yuliarto, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Profesor Eduart Wolok, jajaran menteri, kepala badan, pimpinan TNI-Polri, serta ratusan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah.
Presiden mengatakan, sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari pemikiran, sains, dan teknologi. Dari perkembangan masyarakat agraris hingga era industri modern, inovasi menjadi penentu utama arah kemajuan manusia.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu terus membuka ruang bagi kalangan akademik untuk berkontribusi dalam kebijakan strategis. Presiden menyebut, sejumlah profesor telah dilibatkan dalam posisi penting pemerintahan sebagai bagian dari upaya menghadirkan keputusan yang berbasis pengetahuan dan keahlian.
Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung pentingnya kepemimpinan yang didukung sumber daya manusia andal. Ia mengibaratkan negara sebagai kapal yang membutuhkan awak terbaik agar dapat sampai ke tujuan dengan selamat. Menurutnya, teknologi dan peralatan modern tidak akan bermakna tanpa manusia yang kompeten di baliknya.
Selain menekankan inovasi, Presiden mengajak para elite bangsa untuk memperkuat kerja sama di tengah perbedaan suku, agama, profesi, ideologi, dan pengalaman. Ia menilai bangsa yang elitenya mampu berkolaborasi memiliki peluang lebih besar untuk bangkit dan mencapai potensi terbaiknya.
Presiden kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah konflik di berbagai kawasan dunia, mulai dari Ukraina, Gaza, Lebanon, Yaman, Afghanistan, Myanmar, hingga ketegangan di Asia Tenggara. Ia menyebut persatuan dan kemampuan bekerja sama menjadi modal penting agar Indonesia tetap damai dan fokus mengejar kesejahteraan rakyat.
Dalam konteks demokrasi, Presiden menegaskan bahwa perbedaan politik seharusnya tidak berubah menjadi kegaduhan berkepanjangan. Ia menyampaikan pengalamannya mengikuti kontestasi demokrasi beberapa kali dan menekankan pentingnya menghormati mandat rakyat demi menjaga stabilitas nasional.
Presiden juga menyoroti sejumlah tantangan kemandirian ekonomi dan industri, termasuk ketergantungan impor gandum, produktivitas kelapa sawit, hingga kemampuan Indonesia memproduksi kendaraan sendiri. Ia mendorong kampus dan pusat riset untuk menjawab persoalan tersebut melalui penelitian terapan dan inovasi yang berdampak langsung.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah upaya pengembangan mobil buatan Indonesia. Presiden mengapresiasi langkah awal industri dan kampus dalam menghadirkan kendaraan dengan desain dan produksi dalam negeri, meski belum seluruh komponennya berasal dari Indonesia.
Menurut Presiden, keberanian untuk memulai merupakan kunci penting bagi negara besar seperti Indonesia. Dengan jumlah penduduk besar dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang kuat untuk membangun kemandirian teknologi dan industri apabila didukung riset, kolaborasi, serta keberpihakan kebijakan.
Di hadapan para akademisi, Presiden menyatakan ingin menyampaikan data dan fakta secara terbuka agar dapat dikaji secara ilmiah. Ia berharap kalangan kampus dapat menilai, meneliti, dan menarik kesimpulan berdasarkan pendekatan akademik yang objektif.