Amazon kian memantapkan langkahnya dalam industri konektivitas satelit global. Melalui peluncuran terbaru menggunakan roket Atlas V pada 2 Juli 2026, perusahaan kini telah menempatkan total 396 satelit ke orbit rendah Bumi (LEO). Misi terbaru tersebut sukses menyertakan 29 satelit tambahan ke dalam konstelasi yang sebelumnya dikenal sebagai Project Kuiper.

Direktur Launch Systems Amazon, Melissa Wuerl, menyatakan bahwa perusahaan tengah mengakselerasi infrastruktur peluncuran guna memastikan cakupan jaringan yang lebih luas dan responsif. Dengan fasilitas integrasi vertikal yang kini telah beroperasi penuh, Amazon optimistis dapat meningkatkan frekuensi pengiriman satelit dalam waktu dekat untuk mendukung peluncuran layanan perdana yang dijadwalkan terlaksana tahun ini.

Layanan Amazon Leo diproyeksikan akan menjadi kompetitor serius bagi Starlink milik SpaceX. Amazon menawarkan kecepatan unduh yang kompetitif, mulai dari 100 Mbps hingga 1 Gbps, yang akan disesuaikan berdasarkan pilihan terminal pengguna. Selain fokus pada internet broadband, perusahaan juga mulai berekspansi ke sektor komunikasi satelit langsung ke perangkat melalui akuisisi Globalstar senilai lebih dari US$11,5 miliar.

Meskipun menunjukkan perkembangan signifikan, Amazon masih memiliki tantangan besar dalam mengejar ketertinggalan skala infrastruktur dari dominasi Starlink yang kini telah mengoperasikan sekitar 10.400 satelit. Hingga saat ini, Amazon masih berupaya mengejar target lisensi Federal Communications Commission (FCC) setelah mendapatkan kelonggaran perpanjangan waktu untuk memenuhi kuota penempatan satelit di orbit.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Amazon belum memberikan rincian terkait skema harga berlangganan untuk layanan ini. Namun, langkah strategis ini dinilai sebagai upaya serius perusahaan untuk merebut pangsa pasar internet berbasis satelit di tingkat global, termasuk di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau oleh jaringan kabel konvensional.