Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan signifikan menyusul redanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan yang memungkinkan kembali dibukanya arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar global akan terjadinya banjir pasokan atau glut minyak mentah yang diprediksi dapat menekan harga hingga tahun depan.
Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Data Bloomberg menunjukkan bahwa kondisi pasar fisik kini mengalami tekanan terberat dibandingkan masa pandemi Covid-19. Meskipun penurunan harga ini memberikan napas lega bagi ekonomi dunia dari ancaman inflasi energi, situasi tersebut justru menjadi dilema bagi negara-negara produsen yang tengah berjuang menjaga stabilitas harga.
Analisis dari lembaga keuangan besar seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs menggarisbawahi potensi surplus yang mulai terbentuk. Sejak jalur pelayaran internasional kembali dibuka, puluhan juta barel minyak yang sempat tertahan akibat konflik kini mulai membanjiri pasar. Selain itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga telah meningkatkan intensitas ekspor mereka, yang diperkuat oleh jaminan keamanan maritim dari Amerika Serikat.
Kondisi ini diperparah oleh sikap China—sebagai konsumen minyak utama dunia—yang hingga saat ini belum menunjukkan minat untuk meningkatkan volume impor. Pasokan yang melimpah, ditambah dengan masih berlangsungnya pelepasan cadangan minyak strategis dari pemerintah Amerika Serikat, menciptakan ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dan daya serap pasar yang rendah.
Pakar komoditas mencatat bahwa pasar kini terjebak dalam struktur contango, di mana harga kontrak masa depan lebih tinggi daripada harga saat ini. Fenomena ini merupakan indikator kuat bahwa pasokan di lapangan melampaui permintaan riil. Meski demikian, beberapa analis memprediksi bahwa volatilitas ini mungkin bersifat sementara, terutama jika permintaan dari China kembali pulih dan pemerintah berbagai negara mulai mengisi kembali cadangan strategis mereka guna menyerap kelebihan pasokan tersebut.