Memasuki puncak musim kemarau, Provinsi Sumatra Selatan menghadapi tantangan serius seiring meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga awal Juli 2026, tercatat ratusan kejadian karhutla yang memicu munculnya puluhan titik panas, sehingga menyebabkan kualitas udara di wilayah tersebut menurun drastis akibat paparan partikel halus dan gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO2).
Paparan asap karhutla bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan. Dalam jangka pendek, polusi udara ini dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga bronkitis. Sementara itu, paparan jangka panjang berisiko menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan gangguan jantung, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil.
Untuk meminimalisir risiko paparan, masyarakat sangat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang memenuhi standar perlindungan kesehatan menjadi kewajiban mutlak. Di dalam ruangan, pastikan sirkulasi udara luar tidak masuk dengan menutup ventilasi, serta hindari penggunaan obat nyamuk bakar atau aktivitas merokok di dalam rumah yang justru akan memperburuk kualitas udara.
Langkah preventif sederhana seperti menempelkan kain basah pada celah pintu atau jendela dapat membantu menyaring partikulat debu. Selain itu, menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup sangat krusial untuk membantu proses pembuangan racun dari dalam sistem metabolisme. Perbanyak pula asupan gizi seimbang dan istirahat yang cukup guna memperkuat daya tahan tubuh.
Apabila muncul gejala kesehatan yang mencurigakan, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin. Jangan menunggu kondisi tubuh menurun drastis sebelum mencari bantuan profesional, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan atau jantung.