Industri aset kripto kini menghadapi tantangan keamanan yang kian masif seiring dengan meningkatnya kompleksitas serangan siber. CEO Indodax, William Sutanto, menegaskan bahwa metode peretasan yang dilakukan oleh pelaku kejahatan siber telah bertransformasi menjadi lebih terorganisir dan sulit dideteksi melalui pendekatan pengamanan konvensional.
Urgency terhadap pembaruan sistem keamanan ini semakin mencuat setelah serangkaian insiden peretasan yang terjadi pada April 2026. Laporan dari TRM Labs mencatat bahwa peretasan terhadap Drift Protocol dan KelpDAO menyebabkan kerugian hingga 577 juta dolar AS, atau mencakup 76 persen dari total aset yang dicuri dalam periode tersebut. Data ini menjadi alarm bagi para pelaku industri untuk segera mengadopsi teknologi yang lebih adaptif.
Dalam konteks ini, kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai solusi strategis untuk memperkuat ekosistem blockchain. Berbeda dengan audit tradisional yang bersifat berkala, AI memungkinkan pemantauan risiko secara berkelanjutan (*continuous monitoring*). Teknologi ini mampu menganalisis *smart contract* serta mendeteksi transaksi tidak wajar secara *real-time*, sehingga potensi celah keamanan dapat diidentifikasi jauh sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Meski memiliki potensi besar, William menekankan bahwa AI bukanlah satu-satunya benteng pertahanan. Ia menyebut AI sebagai *resource multiplier* yang berfungsi mempercepat deteksi teknis, namun keamanan blockchain tetap menuntut pendekatan berlapis. Fondasi utama tetap bersandar pada tata kelola yang teregulasi, audit pihak ketiga yang independen, serta peningkatan literasi keamanan bagi pengguna.
Ke depan, tolak ukur keamanan dalam industri blockchain tidak lagi hanya bergantung pada frekuensi audit rutin. Efektivitas sistem kini diukur dari kecepatan deteksi, ketepatan analisis, dan respons cepat terhadap ancaman yang dinamis. Implementasi AI diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang lebih resilien dan terpercaya di masa depan.