Ketimpangan investasi di kawasan Rebana—yang mencakup Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor—kembali menjadi sorotan serius di tingkat legislatif daerah. Wakil Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat, M. Romli, pada 28 Juni 2026 secara tegas menyerukan perlunya upaya pemerataan investasi di kawasan tersebut, yang selama ini didominasi oleh konsentrasi modal di sejumlah titik pertumbuhan utama saja.

Kawasan Rebana selama ini dikenal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi Jawa Barat dengan kontribusi sekitar 35 persen terhadap produk domestik bruto provinsi. Namun, distribusi investasi yang timpang telah menciptakan kesenjangan mencolok: sebagian kota berkembang pesat dengan infrastruktur modern, sementara wilayah lain tertinggal dalam hal akses permodalan, ketersediaan lapangan kerja, maupun penetrasi teknologi digital.

Seruan dari DPRD Jawa Barat ini bukan tanpa dasar. Data ekonomi makro menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal keempat 2025 tercatat 5,08 persen, angka tersebut tidak terdistribusi secara merata. Indeks ketimpangan atau Gini Ratio masih bertengger di angka 0,379 pada September 2025, sementara tingkat pengangguran terbuka nasional sebesar 4,91 persen menyimpan disparitas antarwilayah yang lebih dalam dari sekadar angka rata-rata.

Persoalan ini diperparah oleh laju transformasi digital yang tidak diiringi kesiapan infrastruktur di seluruh wilayah. Kontribusi ekonomi digital terhadap PDB Indonesia memang telah mencapai 8,2 persen pada 2025, tetapi manfaatnya lebih banyak dinikmati oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Daerah-daerah sekunder di kawasan Rebana justru berisiko semakin tertinggal, terutama ketika otomasi berbasis kecerdasan buatan mulai menggerus sektor-sektor padat karya tanpa adanya persiapan yang memadai.

Dalam pandangan DPRD Jabar, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan insentif investasi konvensional. Diperlukan pendekatan transformatif yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk memetakan potensi investasi secara real-time di setiap kecamatan, mencocokkan profil investor dengan peluang bisnis di wilayah sekunder, serta mengaudit kesenjangan infrastruktur digital secara menyeluruh.

Sejumlah kerangka solusi berbasis teknologi diusulkan untuk periode 2026 hingga 2028. Di antaranya adalah pengembangan sistem pemetaan investasi cerdas yang memanfaatkan machine learning untuk mengidentifikasi sektor unggulan di tiap wilayah, mulai dari manufaktur, agritech, logistik, hingga pariwisata. Selain itu, analitik prediktif diharapkan mampu menjembatani kesenjangan informasi yang selama ini menghambat investor untuk berekspansi ke daerah pinggiran.

Aspek pengembangan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Program pelatihan berbasis kecerdasan buatan dirancang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal sesuai kebutuhan industri di masing-masing wilayah, sehingga dapat menekan arus migrasi tenaga kerja ke pusat-pusat investasi dan mengurangi fenomena brain drain dari daerah.

Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, implementasi teknologi blockchain dalam pengelolaan alokasi investasi publik turut direkomendasikan. Pembentukan pusat-pusat inovasi lokal di setiap kota dalam kawasan Rebana juga digagas sebagai wahana kolaborasi antara pelaku UMKM, startup, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah.

Target yang dipatok dari strategi ini cukup ambisius: pemerataan indeks investasi antarwilayah Rebana minimal 60 persen, peningkatan adopsi teknologi digital oleh UMKM sebesar 40 persen, penciptaan 50.000 lapangan kerja berbasis teknologi, serta kenaikan kontribusi ekonomi Rebana terhadap PDB Jawa Barat dari 35 persen menjadi 40 persen dalam kurun waktu dua tahun.

Dengan desakan yang kini bergulir dari legislatif daerah, perhatian pun tertuju pada respons pemerintah pusat untuk menerjemahkan aspirasi ini ke dalam kebijakan konkret. Pemerataan investasi di kawasan Rebana dinilai tidak hanya menjadi kepentingan regional, tetapi juga bagian integral dari upaya memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.