Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menekankan urgensi adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi sektor industri dan pemerintahan di Indonesia. Langkah ini dinilai krusial untuk menangkap peluang ekonomi digital global yang terus berkembang pesat.

Dalam pidato kuncinya pada seminar teknologi yang berlangsung di Bali secara daring, Budi Arie menyoroti proyeksi kontribusi AI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global yang diprediksi mencapai USD13 triliun pada tahun 2030. Khusus untuk Indonesia, nilai ekonomi dari integrasi teknologi ini diperkirakan menyentuh angka USD366 miliar dalam rentang waktu yang sama.

Merujuk pada data McKinsey Global 2023, tren pemanfaatan AI generatif telah menyentuh 79% responden dunia, dengan lebih dari separuh perusahaan global telah mengimplementasikannya di berbagai bidang, mulai dari manufaktur hingga layanan kesehatan. Menkominfo menegaskan bahwa Indonesia harus bersiap, mengingat posisi negara saat ini berada di peringkat keempat dalam indeks kesiapan integrasi AI untuk layanan publik di kawasan ASEAN.

Kendati demikian, Budi Arie mengingatkan adanya pergeseran lanskap tenaga kerja akibat otomatisasi AI. Proyeksi menunjukkan sekitar 83 juta pekerjaan berisiko hilang, namun di saat bersamaan, muncul peluang bagi 69 juta pekerjaan baru yang menuntut keahlian literasi digital yang mumpuni.

Guna merespons tantangan tersebut, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Masyarakat dan pelaku bisnis diimbau untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan teknologi melalui berbagai jalur pelatihan, workshop, serta kemitraan strategis antara institusi pendidikan dan dunia industri.