Keputusan besar diambil oleh Joey Low, seorang wanita berusia 30 tahun yang sebelumnya memiliki karier cemerlang sebagai manajer produk di bursa aset kripto internasional, OKX. Demi menyelamatkan usaha kuliner keluarganya, Hup Cheong Roasted Food, Joey rela melepas penghasilan miliaran rupiah dan terjun langsung ke bisnis yang telah dirintis sejak tahun 1985 tersebut.
Setibanya di Hup Cheong pada tahun 2024, Joey mendapati kenyataan pahit bahwa bisnis legendaris tersebut memiliki piutang macet yang mencapai lebih dari SGD 500.000 atau sekitar Rp7 miliar. Ironisnya, angka tersebut jauh melampaui estimasi awal sang ayah, Tommy Low, yang hanya memperkirakan piutang tak tertagih berada di angka Rp2,8 miliar. Sebagian besar tunggakan ini berasal dari mitra bisnis yang belum melunasi kewajiban pembayaran mereka.
Hup Cheong Roasted Food sendiri sempat mengalami masa sulit akibat pandemi COVID-19, di mana pendapatan gerai anjlok lebih dari 50 persen di tengah beban biaya operasional yang terus melonjak. Melihat kondisi tersebut, Joey mulai melakukan pembenahan internal secara sistematis, termasuk menerapkan penagihan ketat kepada para pelanggan dan memperbaiki tata kelola arus kas perusahaan.
Tak sekadar melakukan efisiensi, Joey juga melakukan inovasi dengan meluncurkan merek baru bernama 'Charrou'. Lini bisnis ini menawarkan produk daging panggang beku dan makanan siap saji dengan konsep modern yang menyasar segmen konsumen muda. Berbeda dengan sistem di perusahaan lama, Charrou menerapkan skema pembayaran di muka guna memastikan stabilitas finansial.
Kini, Joey dan ayahnya membagi fokus untuk mengelola operasional harian Hup Cheong sambil terus mengembangkan potensi Charrou. Dalam waktu satu tahun, langkah inovatif ini mulai membuahkan hasil dengan mencatatkan pendapatan hingga enam digit, sekaligus memberikan harapan baru bagi keberlangsungan warisan kuliner keluarga di tengah tantangan pasar yang dinamis.