Harga emas dunia kembali menunjukkan tren positif setelah data sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) dirilis jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ekonomi yang melambat ini memicu penurunan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah, yang secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Hingga penutupan perdagangan pekan ini, harga emas di pasar spot berada di level US$4.124,2 per troy ounce. Capaian ini menandai pemulihan signifikan dengan kenaikan mingguan sebesar 2,32%, sekaligus memutus rentetan pelemahan harga yang sempat terjadi selama empat pekan berturut-turut.
Perubahan sentimen pasar dipicu oleh data nonfarm payroll yang hanya mencatatkan tambahan 57.000 pekerjaan pada Juni, disertai tingkat pengangguran yang menetap di angka 4,2%. Kondisi ini meredam kekhawatiran pelaku pasar akan kebijakan agresif atau hawkish dari Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga.
Analis pasar dari SIA Wealth Management, Colin Cieszynski, menyebut bahwa pelemahan data tenaga kerja memberikan ruang bagi dolar AS untuk terkoreksi, sehingga harga emas mendapatkan momentum penguatan jangka pendek. Optimisme serupa turut terpancar dari survei Kitco News, di mana mayoritas analis Wall Street maupun investor ritel memperkirakan tren kenaikan harga emas akan berlanjut dalam waktu dekat.
Kendati demikian, para investor tetap akan bersikap waspada. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta data klaim pengangguran mingguan AS mendatang, yang diprediksi menjadi acuan utama arah kebijakan moneter The Fed ke depannya.