KUDUS — Puskesmas Purwosari di Kabupaten Kudus mengambil langkah proaktif dalam menekan risiko penyebaran demam berdarah dengue (DBD) dengan menggencarkan program pemeriksaan kualitas air bersih milik warga serta memperkuat upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh wilayah kerjanya. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas program yang memadukan tenaga promosi kesehatan, surveilans epidemiologi, dan sanitasi lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, petugas sanitarian turun langsung ke permukiman warga untuk memeriksa berbagai sumber air bersih. Langkah ini bertujuan memastikan air yang dikonsumsi dan digunakan masyarakat sehari-hari tetap memenuhi standar kelayakan kesehatan. Fokus pengawasan terutama diarahkan pada kawasan permukiman padat penduduk yang dinilai rawan terhadap masalah sanitasi.
Sanitarian Puskesmas Purwosari, Sri Rejeki, mengungkapkan bahwa kondisi kebersihan lingkungan di sejumlah titik permukiman masih memerlukan perhatian serius. Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan sekitar tempat tinggal. "Kami terus menggalakkan PSN. Sampah-sampah seperti botol bekas, ban bekas, dan barang lain yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk harus segera dibersihkan atau dibuang pada tempatnya," jelasnya.
Selain menghimbau warga membersihkan lingkungan, tim kesehatan juga melakukan pemberian larvasida atau abate pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras secara rutin. Menurut Sri Rejeki, penggunaan larvasida dengan metode yang tepat mampu memberikan perlindungan efektif selama dua hingga tiga bulan dalam mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk.
Kepala Puskesmas Purwosari, Sugeng Riyadi, menegaskan bahwa penanganan dan pencegahan DBD membutuhkan sinergi antar berbagai pihak, bukan hanya bergantung pada satu program tunggal. "Lintas program yang terlibat mulai dari surveilans epidemiologi, tenaga sanitasi lingkungan, hingga promosi kesehatan. Masing-masing memiliki peran penting dalam edukasi masyarakat, pelacakan kasus, serta upaya pencegahan di lapangan," paparnya.
Sugeng menjelaskan bahwa setiap kali menerima laporan kasus DBD dari rumah sakit, tim surveilans langsung bergerak melakukan investigasi epidemiologi di lokasi tempat tinggal pasien. Pemantauan dilakukan dalam radius hingga 200 meter dari titik kasus guna mengidentifikasi potensi penyebaran penyakit serta keberadaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar. Hasil investigasi tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk koordinasi dengan pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat setempat.
Sementara itu, Promotor Kesehatan Puskesmas Purwosari, Aris Budiyanto, menambahkan bahwa edukasi kepada masyarakat dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kanal komunikasi. Selain memanfaatkan media sosial, tim juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kelurahan, menggelar siaran keliling, serta melaksanakan penyuluhan di sekolah-sekolah. "Anak-anak juga menjadi sasaran edukasi karena sebagian besar aktivitas mereka berlangsung di lingkungan sekolah," ungkapnya.