PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) secara resmi mengumumkan keberhasilan menuntaskan transformasi sistem teknologi informasi (IT) perusahaan. Langkah strategis ini ditempuh sebagai fondasi utama untuk mengakselerasi bisnis digital sekaligus meningkatkan standar layanan perbankan agar setara dengan bank-bank berskala besar di Indonesia.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari misi perseroan untuk mencapai visi sebagai salah satu dari lima bank syariah terbesar di dunia. Dengan dukungan serta pengawasan strategis dari Danantara, BSI kini memiliki infrastruktur yang lebih tangguh untuk mengejar target ambisius, yakni menggaet 40 juta nasabah hingga tahun 2030.
Salah satu pencapaian krusial dalam transformasi ini adalah keberhasilan migrasi sistem core banking dari versi R10 ke R24 pada pertengahan Mei 2026. Proyek skala besar ini melibatkan lebih dari 1.500 tenaga ahli dan dilaksanakan dengan pengawasan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Danantara untuk menjamin keamanan dan stabilitas sistem.
Hasil dari pembaruan teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 80 persen dan mempercepat durasi Close of Business (COB). Saat ini, sistem BSI memiliki tingkat ketersediaan layanan (availability) mencapai 99,99 persen. Kapasitas sistem yang jauh lebih besar kini memungkinkan BSI untuk terus berinovasi melalui platform digital unggulannya, yakni BYOND untuk nasabah ritel dan BEWIZE bagi nasabah institusi.
Selain penguatan teknologi, performa keuangan BSI juga menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,39 triliun, tumbuh 16,73 persen secara tahunan (YoY). Dengan total aset mencapai Rp444 triliun dan dukungan model bisnis baru seperti layanan perbankan emas, BSI kian optimistis dalam memperkuat posisinya sebagai motor penggerak utama ekonomi syariah nasional yang inklusif dan kompetitif.