Industri konsol gaming tengah menghadapi tantangan besar seiring melonjaknya harga komponen secara signifikan. Kondisi ini memaksa para produsen besar seperti Sony, Microsoft, dan Nintendo untuk mengevaluasi kembali strategi penetapan harga produk generasi mendatang mereka.

Berdasarkan informasi yang dibocorkan oleh seorang leaker bernama Kepler_L2 melalui forum NeoGAF, biaya bill of material (BoM) atau total komponen untuk PlayStation 6 (PS6) kini diperkirakan hampir menyentuh angka $1.000 atau setara dengan sekitar Rp18 juta. Angka ini jauh melonjak dibandingkan prediksi sebelumnya dari leaker Moore's Law is Dead beberapa bulan lalu, yang memperkirakan BoM PS6 berada di kisaran $743.

Meskipun menghadapi tekanan biaya yang sangat tinggi, Sony dikabarkan tidak berencana menunda peluncuran PS6. Menurut Kepler_L2, penundaan justru akan menciptakan masalah yang lebih kompleks. Produk-produk yang sudah diproduksi berisiko menganggur di gudang tanpa menghasilkan pemasukan. Selain itu, harga memori RAM diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan, sehingga menunda peluncuran hanya akan memperparah beban biaya produksi.

Dari sisi konsumen, sang leaker menyarankan bahwa varian Digital Only kemungkinan besar akan menjadi opsi paling terjangkau bagi mereka yang ingin membeli PS6. Jika Sony benar-benar mematok harga jual di angka $999, maka PS6 akan mencatatkan rekor sebagai konsol rumahan termahal yang pernah dijual sepanjang sejarah industri gaming.

Kepler_L2 juga mengungkapkan bahwa tekanan kenaikan biaya tidak hanya berdampak pada konsol generasi mendatang. Baik Sony maupun Nintendo disebut-sebut perlu menaikkan harga konsol generasi saat ini yang masih beredar di pasaran. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa hobi gaming di platform konsol semakin sulit dijangkau oleh kalangan luas dan hanya bisa dinikmati oleh segmen konsumen tertentu saja.

Lonjakan biaya produksi konsol ini mencerminkan kondisi global rantai pasok semikonduktor dan komponen elektronik yang masih bergejolak. Situasi ini menjadi ujian berat bagi seluruh pelaku industri gaming dalam menyeimbangkan antara spesifikasi perangkat keras yang mumpuni dan harga jual yang masih bisa diterima pasar.