Malang — Pernahkah terlintas pertanyaan bagaimana lampu penerangan jalan mampu menyala secara otomatis saat malam menjelang tanpa campur tangan manusia? Jawaban dari teknologi cerdas di balik fenomena itu kini berhasil dipelajari langsung oleh belasan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui kegiatan Trial Class Embedded System yang diselenggarakan Program Studi Teknik Informatika S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Jumat (26/06/2026).

Bertempat di Laboratorium Mobile Programming Kampus 2 ITN Malang, para peserta yang berasal dari berbagai SMK ini mendapat tantangan menarik: merakit mini project berupa sistem kontrol otomatis menggunakan sensor suhu LM35 dan sensor cahaya LDR (Light Dependent Resistor). Suasana laboratorium pun berubah menjadi arena eksperimen yang penuh semangat dan rasa penasaran.

Ketua Prodi Teknik Informatika S-1 ITN Malang, Yosep Agus Pranoto, ST., MT., mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan strategi program studi untuk memperkenalkan kompetensi unggulan yang dimiliki setiap laboratorium kepada calon mahasiswa baru. "Kami ingin tiap lab di bawah naungan Prodi Informatika bisa memamerkan ilmu mereka. Berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru, keunggulan lab ini kami kemas dalam format trial class," ujar Yosep. Ia menambahkan bahwa peserta yang kemudian mendaftarkan diri sebagai mahasiswa ITN Malang berkesempatan memperoleh potongan biaya kuliah.

Dua pemateri yang bertugas, John Rolanda Sabat dan Panji Jagat Satria, memilih pendekatan yang ramah bagi pemula. Alih-alih membombardir peserta dengan istilah teknis yang membingungkan, keduanya menggunakan analogi keseharian agar konsep embedded system mudah dicerna. Materi diawali dengan pengenalan tiga pilar utama, yakni pengertian embedded system, mekanisme kerja mikrokontroler beserta pemrogramannya, serta pola koneksi antara sensor dan aktuator.

Rolanda menjelaskan konsep tersebut melalui simulasi lampu jalan otomatis yang mudah dipahami. "Sensor cahaya LDR berperan sebagai 'mata' yang mendeteksi kondisi gelap, mikrokontroler berfungsi sebagai 'otak' yang mengolah data, sementara lampu bertindak sebagai 'tangan' yang merespons dengan menyala secara otomatis," paparnya.

Momen paling seru terjadi saat sesi praktik berlangsung. Bagi sebagian besar peserta yang baru pertama kali menyentuh perangkat keras elektronika, tantangan datang silih berganti. Beberapa siswa salah menghubungkan jalur pin, ada yang kebingungan dengan kabel jumper yang longgar, hingga sempat panik ketika layar laptop memunculkan pesan error saat proses unggah kode program di Arduino IDE. Namun, para mentor dengan sabar membimbing, menunjukkan jalur kabel yang tepat, sekaligus mengajarkan cara membaca dan mengatasi pesan kesalahan tersebut.

Rolanda menekankan bahwa di era digital saat ini, kemampuan membuat aplikasi saja belum cukup. Menurutnya, lulusan bidang perangkat lunak yang juga memahami dunia elektronika — seperti konsep resistansi atau cara membaca tegangan milivolt pada komponen — akan memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi. Mereka mampu menulis kode program yang lebih efisien, aman, dan tidak berpotensi merusak perangkat keras. "Pondasinya ada pada logika pemrograman seperti bahasa C/C++ yang digunakan di Arduino, serta pemahaman elektronika dasar mulai dari konsep arus, hambatan, hingga cara membaca lembar spesifikasi komponen," jelasnya.

Di lingkungan akademik ITN Malang, pengembangan teknologi cerdas seperti ini telah diintegrasikan ke dalam kurikulum berbasis proyek. Laboratorium Mobile Programming menyediakan fasilitas lengkap berupa perangkat keras, mikrokontroler, modul sensor, hingga perangkat Internet of Things (IoT) agar mahasiswa dapat langsung bereksperimen menciptakan solusi teknologi yang aplikatif.

Salah satu peserta, Yoga Setiawan dari SMK Sore Tulungagung, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman perdananya ini. "Trial class hari ini sangat menyenangkan dan panitianya hebat sekali! Acara ini benar-benar menambah wawasan dan pengalaman baru buat saya. Semoga Lab Mobile Programming dan ITN Malang makin keren lagi ke depannya," tutur Yoga dengan antusias.

Sepulang dari laboratorium, para peserta tidak hanya membawa bekal pengetahuan baru tentang dunia embedded system. Mereka juga memperoleh modul materi lengkap, merchandise, serta modal pengalaman praktik langsung yang berharga untuk menunjang perjalanan pendidikan mereka di masa mendatang. Yosep juga mengisyaratkan bahwa agenda serupa akan terus bergulir karena masih ada sejumlah laboratorium lain yang siap menyelenggarakan trial class berikutnya.