PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan yang bergerak di bidang solusi kelistrikan dan infrastruktur telekomunikasi, tengah mempersiapkan langkah besar untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perseroan yang terafiliasi dengan Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) ini akan melepas hingga 615 juta lembar saham baru, setara dengan 15,06 persen dari total modal ditempatkan dan disetor pascaIPO.
Harga penawaran saham BACH dipatok pada rentang Rp400 hingga Rp500 per lembar. Berdasarkan analisis yang dirilis Mirae Asset Sekuritas Indonesia melalui riset analis Daniel Widjaja pada 26 Juni 2026, aksi korporasi ini diproyeksikan mampu mengumpulkan dana segar antara Rp246 miliar hingga Rp308 miliar. Sebagian besar dana tersebut, yakni sekitar 70 persen atau Rp213 miliar, akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja bisnis genset, sedangkan sisanya sebesar 30 persen atau Rp92 miliar digunakan untuk melunasi kewajiban utang perusahaan.
BACH menjalankan tiga lini usaha utama yang saling melengkapi. Pertama, penjualan dan penyewaan genset untuk memenuhi kebutuhan daya cadangan maupun sumber listrik utama di lokasi menara telekomunikasi serta pusat data. Kedua, pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Ketiga, layanan operasional dan pemeliharaan (O&M). Dengan pengalaman lebih dari seperempat abad serta jaringan operasional yang tersebar secara nasional, Mirae Asset menilai perseroan memiliki posisi strategis sebagai penyedia peralatan pendukung dalam ekosistem pembangunan jaringan telekomunikasi tanah air.
Jadwal IPO BACH dirancang mulai efektif pada 29 Juni 2026, diikuti masa penawaran awal pada 1 hingga 3 Juli 2026, dan pencatatan saham di BEI ditargetkan berlangsung pada 7 Juli 2026. Pada kisaran harga penawaran tersebut, valuasi perseroan diperkirakan berada di angka Rp1,63 triliun hingga Rp2,04 triliun, yang setara dengan price to earnings ratio (PER) 10,5 hingga 13,1 kali berdasarkan laba tahun buku 2025, atau sekitar 8,0 hingga 9,6 kali EV/EBITDA.
Meski secara formal baru akan berstatus perusahaan terbuka, struktur pengendalian BACH sejatinya telah mengerucut ke arah Grup TOWR. Pascapenawaran perdana, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) selaku kendaraan pendiri masih akan menguasai 52,3 persen saham, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) menggenggam 25,5 persen. Namun, berdasarkan perjanjian opsi yang bersifat tidak dapat dibatalkan antara kedua pihak pada 7 Januari 2026, GTP telah menyampaikan niat eksekusi opsi pada 13 Maret 2026 untuk mengakuisisi 1 miliar saham milik BMSI.
Melalui transaksi tersebut, kepemilikan GTP akan melonjak menjadi 51 persen atau sekitar 2,1 miliar saham, sementara porsi BMSI menyusut menjadi 26,8 persen. Nilai akuisisi diperkirakan berkisar antara Rp417 miliar hingga Rp512 miliar, dengan penyelesaian transaksi dilakukan dalam lima hari kerja setelah saham BACH resmi tercatat. Mirae Asset menegaskan bahwa transaksi ini hanya bersifat perpindahan kepemilikan antarpemegang saham lama, sehingga jumlah saham beredar tetap sekitar 4,1 miliar lembar dan porsi saham publik tak berubah di level 15,1 persen.
Dengan GTP sebagai pengendali, BACH akan secara resmi masuk dalam orbit keluarga Hartono yang juga mengendalikan TOWR dan Protelindo. Konsolidasi BACH ke dalam laporan keuangan TOWR diperkirakan memberi dampak positif bagi grup. Secara pro forma berdasarkan proyeksi tahun buku 2025, pendapatan TOWR akan naik 13 persen menjadi Rp15,1 triliun, EBITDA tumbuh 2,3 persen menjadi Rp11,2 triliun, dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 4,2 persen menjadi Rp3,8 triliun. Rasio utang bersih terhadap EBITDA juga sedikit membaik dari 4 kali menjadi 3,9 kali.
Dari sisi kinerja operasional, BACH menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan dalam beberapa tahun terakhir. Pendapatan bersih perusahaan meningkat signifikan dari Rp1 triliun pada 2023 menjadi Rp1,7 triliun pada 2025, mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 39,7 persen. Laba bersih melesat dari Rp34 miliar menjadi Rp156 miliar pada periode yang sama. Indikator profitabilitas turut menunjukkan perbaikan, dengan margin EBITDA mencapai 14,5 persen pada 2025 dari sebelumnya 8,2 persen pada 2023, margin laba bersih 9 persen, return on equity (ROE) 29 persen, serta return on invested capital (ROIC) 20,6 persen.
Protelindo dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) tercatat sebagai pelanggan utama BACH, menyumbang sekitar 28 persen pendapatan pada 2025. Langkah ini sejalan dengan strategi besar TOWR dalam memperluas layanan Power as a Service (PaaS) guna mengurangi ketergantungan menara telekomunikasi terhadap pasokan listrik eksternal. Dari sisi tata kelola, keterkaitan BACH dengan TOWR diperkuat melalui jajaran manajemen, di mana Anita Anwar yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Protelindo dan Direktur Sarana Menara Nusantara, menduduki posisi Presiden Komisaris BACH, sementara Budi Kurniawan yang telah bergabung sejak 2007 tetap memimpin operasional sebagai Direktur Utama.