Sabuk Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) menunjukkan aktivitas tektonik yang kian intensif dalam sepekan terakhir. Rentetan gempa bumi bermagnitudo signifikan melanda berbagai belahan dunia, memicu kekhawatiran sekaligus kebutuhan mendesak akan pentingnya literasi kebencanaan bagi masyarakat yang bermukim di zona aktif tersebut.
Dr. Daryono, pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menegaskan bahwa besaran magnitudo bukanlah satu-satunya tolok ukur kerusakan. Kedalaman pusat gempa (hiposenter) dan karakteristik geologi lokal memainkan peran krusial terhadap dampak yang dirasakan di permukaan tanah. Sebagai contoh, gempa kembar (doublet) di Venezuela pada 25 Juni 2026 yang bersifat dangkal menimbulkan kehancuran masif, berbeda dengan gempa di Jepang yang meski berkekuatan besar namun minim kerusakan karena bersumber dari kedalaman laut yang signifikan.
Menghadapi dinamika geologi ini, Daryono mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan respons saat bencana terjadi. Penguatan struktur bangunan agar memenuhi standar ketahanan gempa harus menjadi prioritas. Selain itu, pemahaman mengenai prosedur keselamatan, seperti tetap tenang dan berlindung di bawah furnitur kokoh alih-alih panik keluar gedung, menjadi kunci utama untuk menekan risiko fatalitas.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi perilaku sehari-hari. Hal ini mencakup penyediaan tas siaga bencana yang memuat logistik untuk tiga hari, pemetaan jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal, serta ketanggapan masyarakat pesisir dalam mengenali tanda alam tsunami tanpa harus menunggu peringatan resmi.
Rentetan peristiwa seismik mulai dari Afghanistan hingga Filipina ini menjadi pengingat bahwa hidup di wilayah rawan gempa menuntut masyarakat untuk hidup berdampingan secara cerdas dengan risiko bencana. Edukasi yang terintegrasi menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menghadapi ketidakpastian alam yang tidak terduga.