Sektor perbankan di Indonesia kini menjadikan digitalisasi sebagai instrumen vital untuk memperluas penetrasi di pasar wholesale. Langkah ini diambil seiring dengan catatan positif pertumbuhan kredit korporasi yang menembus angka 15,51% secara tahunan (year on year) per April 2026, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjadi salah satu pemain utama yang mencatatkan pertumbuhan signifikan melalui platform digital Bale Korpora. Hingga Mei 2026, jumlah pengguna layanan tersebut telah melampaui 25.000 perusahaan, atau melonjak 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya dari sisi basis pengguna, volume transaksi pun tercatat fantastis mencapai Rp153 triliun, tumbuh 81% secara tahunan.
Direktur Corporate Banking BTN, Helmy Afrisa Nugroho, menyatakan bahwa Bale Korpora berperan strategis tidak hanya sebagai kanal transaksi, melainkan juga fondasi dalam memperkuat struktur dana murah (CASA). Dengan basis pendanaan yang lebih efisien, BTN memiliki ruang gerak yang lebih leluasa untuk menyalurkan kredit dengan suku bunga yang lebih kompetitif, khususnya bagi nasabah di sektor properti dan industri terkait.
Ke depan, BTN berambisi mengembangkan Bale Korpora menjadi platform perbankan wholesale terintegrasi (one-stop platform). Perseroan berencana melengkapi layanan tersebut dengan fitur trade finance, pembiayaan rantai pasok (supply chain financing), bank garansi, hingga layanan transaksi treasury seperti valuta asing untuk memberikan nilai tambah bagi nasabah korporasi.
Strategi serupa juga diterapkan oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melalui platform BEWIZE. Dengan mengusung konsep single sign-on, BSI mencatatkan pertumbuhan pengguna sebesar 34% menjadi lebih dari 47.000 akun, diiringi lonjakan volume transaksi sebesar 46% secara tahunan. Pihak manajemen BSI optimistis bahwa penguatan infrastruktur teknologi ini akan menjadi katalis utama bagi bank untuk mencapai target 40 juta nasabah dalam beberapa tahun mendatang.